|
SEKOLAH BERTARAF INTERNASIONAL S.B.I |
|
PEMERINTAH KABUPATEN BEKASI |
|
|
Pendidikan Unggul yang Bermutu
Manajemen sekolah dengan menggunakan pendekatan MBS akan berhasil jika mampu mengangkat derajat mutu proses dari produk pendidikan dan pembelajaran, dalam hal ini mutu mengandung makna derajat keunggulan suatu produk atau hasil kerja, baik barang maupun jasa. Menurut Sudarwan Danim (2006), Dalam Konteks pendidikan, pengertian mutu mengacu pada masukan, proses keluaran dan dampaknya.
Mutu masukan dapat dilihat dari beberapa sisi :
|
Pertama |
: Kondisi baik tidaknya masukan SDM, seperti kepala sekolah, guru, laburan, |
|
|
staf tata usaha dan siswa. |
|
Kedua |
: Memenuhi atau tidaknya Kriteria masukan material, seperti alat peraga, |
|
|
buku-buku, kurikulum, prasarana, sarana sekolah dan lainnya. |
|
Ketiga |
: Memenuhi atau tidaknya kriteria masukan berupa perangkat lunak, seperti |
|
|
peraturan, struktur organisasi, deskripsi kerja. |
|
Keempat |
: Mutu masukan yang bersifat harapan dan kebutuhan, seperti visi, motivasi, |
|
|
ketekunan dan cita-cita. |
Mutu proses pembelajaran mengandung makna bahwa kemampuan sumber daya sekolah mentranformasikan multi jenis masukan dan situasi untuk mencapai nilai tambah tertentu bagi peserta didik. Selanjutnya dikatakan Sudarwan bahwa hasil pendidikan dipandang bermutu jika mampu melahirkan keunggulan akademik dan ekstrakulikuler pada peserta didik yang dinyatakan lulus atau untuk satu jenjang pendidikan atau menyelesaikan program pembelajaran tertentu. Keunggulan akademik dinyatakan dengan nilai yang dicapai oleh peserta didik. Keunggulan ekstrakulikuler dinyatakan dengan aneka jenis keterampilan yang diperoleh siswa selama mengikuti program ekstrakulikuler.
Menurut Edward Sallis (1993) yang dikutip oleh Sudarwan Danim (2006), sekolah yang bermutu, yang berarti juga sekolah unggulan, memiliki ciri-ciri sebagai berikut :
|
1. |
Sekolah berfokus pada pelanggan, baik pelanggan internel maupun eksternal. |
|
|
|
|
2.
|
Sekolah berfokus pada upaya untuk mencegah masalah yang muncul, dalam arti ada |
|
komitmen untuk bekerja secara benar dari awal. |
|
|
|
|
|
3.
|
Sekolah memiliki investasi pada SDM. Komitmen ini terus dijaga, agar tidak mengalami |
|
kerusakan psikologis, karena kerusakan psikologis sulit diperbaiki. |
|
|
|
|
|
4. |
Sekolah memiliki strategi untuk mencapai kualitas, baik tingkat pimpinan, tenaga |
| akademik, maupun tenaga administrative. | |
|
|
|
|
5. |
Sekolah menjalankan atau memperlakukan keluhan sebagai umpan balik untuk |
|
|
mencapai kualitas & memposisikan kesalahan sebagai instrument untuk melakukan perbaikan dimana yang akan datang. |
|
|
|
|
6. |
Sekolah memiliki kebijakan dalam perencanaan untuk mencapai kualitas baik jangka |
|
|
pendek,menengah,maupun jangka panjang. |
|
|
|
|
7. |
Sekolah mengupayakan proses perbaikan dengan melibatkan semua orang sesuai |
|
|
dengan tugas pokok, fungsi dan tanggung jawabnya. |
|
|
|
|
8. |
Sekolah mendorong orang yang dipandang kreatif untuk mampu menciptakan kualitas |
|
|
dan merangsang yang lainnya agar dapat bekerja secara kualitas. |
|
|
|
|
9. |
Sekolah memperjelas peran dan tanggungjawab setiap orang, termasuk kejelasan arah |
| kerja secara vertical dan horizontal. | |
|
|
|
|
10. |
Sekolah memiliki strategi dan kriteria evaluasi yang jelas. |
|
|
|
|
11. |
Sekolah memandang atau menempatkan kualitas sebagai bagian integral dari budaya |
| kerja. | |
|
|
|
|
12. |
Sekolah memandang dan menempatkan kualitas yang telah dicapai sebagai jalan untuk |
|
|
memperbaiki kualitas layanan lebih lanjut. |
|
|
|
|
13. |
Sekolah menempatkan peningkatan kualitas secara terus menerus sebagai suatu |
| keharusan. | |
|
|
|
Sumber : Kajian SMU UNGGULAN di Kabupaten Bekasi