UPAYA PENGENTASAN KEBODOHAN

Puji syukur kepada Tuhan YME atas berkat-NYA kita dapat berkumpul ditempat ini. Dan taklupa saya ucapkan kepada Ibu Yuli Dalam kesempatan ini saya ingin membicarakan tentang upaya pengentasan kebodohan

Pengentasan kemiskinan dan kebodohan memerlukan upaya yang sungguh-sungguh dengan satu sistem pendidikan nasional yang harus kita persiapkan secara matang agar mampu mengantisipasi tantangan masadepan.

Mendiknas. Yahya A. Muhaimin, mengatakan hal itu dalam sambutannya pada peringatan Hari Pendidikan Nasional, 2 Mei 2001, di Kantor Pusat Depdiknas, Senayan, Jakarta.

Krisis multi dimensional yang berkepanjangan di Indonesia berdampak terhadap dunia pendidikan, sehingga amat dirasakan semakin banyak anak-anak yang putus sekolah dan tidak dapat melanjutkan pelajarannya di bangku sekolah.

Bahkan, menurut Mendiknas, banyak di antara mereka yang terpaksa menjadi anak jalanan, atau harus lebih keras bekerja membantu mencari nafkah untuk keluarganya. Keadaan ini lebih diperburuk lagi dengan terjadinya kerusuhan di berbagai daerah. Kerusuhan ini, telah menyebabkan hancurnya sarana dan prasarana pendidikan, banyak anak-anak yang tidak dapat bersekolah karena terpaksa harus mengungsi bersama keluarganya, bahkan banyak dari mereka yang mengalami tekanan psikologi (trauma). "Keadaan ini sungguh amat memprihatinkan bagi kita" kata Yahya.

Dikatakan oleh Mendiknas, dalam keadaan negara dan bangsa yang demikian itulah, kita pada hari ini memperingati Hari Pendidikan Nasional dengan penuh optimisme bahwa kita sebagai bangsa akan mampu mengentaskan diri dari dua musuh utama kita, yakni kemiskinan dan kebodohan.

Kedua musuh utama inilah yang telah menyebabkan rendahnya kualitas sumberdaya manusia Indonesia. Untuk itulah, maka pemerintah telah membentuk Komite Reformasi Pendidikan, dengan tujuan untuk menyiapkan substansi dan strategi reformasi sistern pendidikan nasional, menyesuaikan sistem pendidikan nasional dengan prinsip-prinsip desentralisasi, otonomi, dan keadilan dalam rangka peningkatan mutu, efisiensi, efektivitas pengelolaan pendidikan, dan peranserta masyarakat secara luas di bidang pendidikan agar sesuai dengan tuntutan global dan keanekaragaman aspirasi daerah.

Dijelaskan oleh Yahya, pada saat ini kita berada pada awal otonomi daerah, yang pelaksanaarnya memerlukan upaya koordinasi dan sinkronisasi secara terus-menerus antara Pemerintah Pusat dan Daerah. Pada saat ini kita juga dihadapkan pada masalah rendahnya mutu. pendidikan. Di samping itu, masalah disintegrasi bangsa dalam berbagai bentuknya juga mengancam keutuhan bangsa dan negara. Itulah sebabnya, peringatan Hari Pendidikan Nasional kah ini mengambil tema "Dengan Semangat Hari Pendidikan Nasional kita Sukseskan Otonomi Peningkatan Mutu serta Memperkukuh Kesatuan Bangsa ".

Harapan kita semua, semoga bangsa kita dapat ke luar dari krisis yang berkepanjangan ini, dan dapat segera memenangkan perjuangan untuk tetap memperkukuh persatuan dan kesatuan bangsa. Perjuangan untuk membangun Indonesia baru memerlukan kerja keras dan motivasi yang tinggi seluruh komponen anak bangsa dari Sabang hingga Merauke.

Reformasi Pendidikan

Sehubungan dengan proses pembaruan (reformasi) pendidikan di Indonesia, Mendiknas Yahya A. Muhaimin, mengimbau kepada seluruh insan pendidikan di Tanah Air khususnya para pakar dan praktisi pendidikan, baik yang ada di perguruan tinggi, di lembaga pendidikan di pusat dan lebih-lebih di daerah, di lembaga penelitian, di dunia industri, maupun dalam masyarakat luas untuk melakukan langkah-langkah membantu Komite Reformasi Pendidikan dalam merumuskan konsep pembaruan pendidikan nasional, dan selanjutnya melaksanakannya dalan tatanan kehidupan berbangsa, bernegara, dan bermasyarakat.

Dalam hubungan dengan era otonomi daerah yang telah berjalan sejak tahun 2001 ini, pemerintah telah menyerahkan hak dan kewenangan untuk melaksanakan pendidikan, bukan hanya ditingkat propinsi, melainkan sampai di tingkat Kabupaten/Kota.

Dalam bidang pendidikan dasar dan menengah, hak dan kewenangan dalam penyelenggaraan pendidikan bahkan telah diserahkan sampai ketingkat sekolah melalui penerapan konsep manajemen berbasis sekolah (school based management). Untuk meningkatkan angka partisipasi pendidikan dasar, pemerintah telah membangun gedung sekolah, memberikan bantuan beasiswa kepada siswa yang kurang mampu, memberikan bantuan ke pada sekolah negeri dan swasta berupa program imbal swadaya dalam bentuk block grant. Untuk meningkatkan kemanusiaan lulusan sekolah menengah kejuruan, telah dilaksanakan program pendidikan sistem ganda (PSG), baik di dalam dan di luar negeri. Untuk meningkatkan dedikasi dan profesionalisme guru, telah diberikan kenaikan tunjangan fungsional untuk guru, dan masih banyak lagi program kebijakan yang telah dan akan dilaksanakan dalam bidnag pendidikan dasar dan menengah.

Jalur pendidikan luar sekolah dan jalur pendidikan sekolah merupakan dua sisi yang paling mendukung dan tidak dapat dipisahkan dari sistem pendidikan nasional. Dalam rangka pelaksanaan otonomi daerah, pendidikan luar sekolah, pemuda dan olahraga diharapkan dapat lebih memperdayakan potensi dan peranserta masyarakat menurut prakarsa sendiri berdasarkan aspirasi masyarakat.

Dalam bidang pendidikan tinggi, pemerintah telah memberikan hak dan kewenangan penyelenggaraan pendidikan tinggi melalui program otonomi perguruan tinggi, dengan tetap dalam wadah kebijakan untuk meningkatkan tridarma perguruan tinggi memiliki peran yang amat strategi untuk menghasilkan tenaga kependidikan yang memiliki kepribadian seimbang dengan kopentensi akademis yang dimiliki.

Mendiknas Yahya A. Muhaimin, lebih lanjut mengungkapkan, pada awalnya upaya pemerataan kesempatan belajar memang menjadi perhatianutama pemerintah. Pada saat ini, kebijakan peningkatan mutu pendidikan pada semua jalur dan jenjang pendidikan kini menjadi prioritas program pendidikan seiring sejalan dengan upaya pemerataan kesepakatan belajar sekaligus dengan tetap meningkatkan efektivitas dan efisiensi penyelenggaraan manajemen pendidikan secara transparan dan dapat dipertanggungjawabkan kepada masyarakat (akuntabel).

Pada akhir sambutannya Mendiknas, Yahya Muhaimin menegaskan dengan peringatan Hari Pendidikan Nasional, kita semua harus tetap teguh dalam doa, dan sekaligus memetik pelajaran berharga bahwa pembangunan pendidikan sampai kapan pun harus tetap kita hadapi dengan kerja keras, pantang, berputus asa, dengan mempererat kerja sama dan tali persaudaraan di antara sesama anak hangsa. Kita berharap, semoga momentum peringatan Hari Pendidikan Nasional dapat mengubah semangat dan motivasi kita untuk tetap bekerja keras membangun pendidikan untuk masa depan anak-anak bangsa, agar mereka dapat menerima estafet pembangunan bangsa, tetap berdiri tegak di area global yang semakin sarat dengan tantangan dan persaingan. Kita bertekad kuat untuk melaksanakan agenda reformasi bangsa menuju Indonesia baru yang lebih demokratis. harmonis, damai, aman dan sejahtera.

Mendiknas berharap mudah-mudahan upaya mencerdaskan kehidupan bangsa menjadi wahana yang amampuh untuk meninngkatkan kualitas sumber daya manusia, dan sekaligus dapat menjadi perekat persatuan dan kesatuan bangsa. Ingin kami menyampaikan penutup sambutan ini, dari pada saling pandang-memandangi dengan kecurigaan dan kebimbangan, marilah kita saling mengulurkan tangan yang tulus dan penuh persahabatan, serta bersatu membentu satu barisan sebagai lambang pemberi maaf dan menghilangakan perselisihan yang selama ini masih ada. Janganlah ada sebutan-sebutan lain yang kedengaran, kecuali sebutan warga negara yang baik, seorang sahabat yang lapang hati, seorang penyokong yang jujur dan hak asasi manusia, dan negara Kesatuan Republik Indonesia yang bersatu, berdaulat, adil dan makmur.

Kegiatan Mendiknas

Dalam Peringatan Hardiknas tahun 2001 diisi dengan acara dan kegiatan. Pertama, Mendiknas menyampaikan pidato Hardiknas yang disiarkan di TVRI dan RRI pada tanggal 1 Mei 2001, pukul 19.00 WIB. Kedua, Upacara bendera di halaman Kantor Depdiknas Senayan, pada hari Rabu 2 Mei 2001, pukul 08.00 WIB, dengan Pembina Upacara Mendiknas. Dalam kesempatan itu Mendiknas akan menyematkan Satya Lencana Karya Setya kepada 89 pegawai di lingkungan Depdiknas.

Pada pukul 11.00 WIB bertempat di Istana Negara Jakarta, Presiden RI menghadiri peringaatan Hari Pendidikan Nasional tahun 2001. dalam kesempatan ini Presiden RI menyerahkan penghargaan Widya Krama kepada 17 Kabupaten dan 9 Kota yang daerahnya telah berhasil dalam melaksanakan Program Wajib Belajar Pendidikan dasar 9 Tahun.

Rangkaian kegiatan dilanjutkan dengan pergelaran kesenian di Plaza Depdiknas pada pukul 14.00 WIB dan pada tanggal 3 Mei 2001, Presiden RI meresmikan Pameran Raya Pendidikan, Pelatihan dan Teknologi 2001 di JHCC.

Kegiatan lain yang masih dalam rangkaian peringatan Hardikanas adalah penghargaan guru daerah terpencil, lomba penelitian ilmiah remaja (LPIR), pemilihan pamong belajar teladan, penilaian artikel terbaik pendidikan yang dimuat di media cetak, dan Paskibraka yang puncaknya dilaksanakan di Pusat pada saat menjelang peringatan 17 Agustus 2001.